Beranda Kesehatan RENCANA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19

RENCANA PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19

209
0
Efriana, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Halu Oleo, Program Studi Kesehatan Masyarakat

Covid-2019 merupakan genus coronavirus β dan memiliki karakteristik genetik yang berbeda dari SARSr-CoV dan MERSr-CoV. Coronavirus sensitive terhadap sinar ultraviolet dan panas, dapat dinonaktifkan secara efektif ketika suhu lingkungan 56 0C selama 30 menit. Berdasarkan investigasi epidemiologi saat ini, masa inkubasi COVID-19 adalah 1-14 hari, umumnya dalam 3 hingga 7 hari. Saat ini, sumber utama infeksi adalah pasien COVID-19 dan pembawa (Carrier) Covid-2019 yang tanpa gejala juga dapat menjadi sumber infeksi. Rute penularan utama adalah droplets pernapasan dan kontak dekat, Sedangkan pada manusia semua golongan umur dapat tertular Covid-19.

Tindakan-tindakan Pencegahan dan Pengendalian

a. Memperbaiki Mekanisme Pencegahan dan Mengendalian
Memperkuat Kepemimpinan Organisasi Pencegahan dan pengendalian COVID-19 harus ditempatkan sangat penting. Departemen kesehatan pada semua tingkatan/level harus mengikuti administrasi pemerintah dan memperkuat pedoman kerja pencegahan dan pengendalian epidemi lokal, membentuk kelompok ahli pencegahan dan pengendalian
COVID-19.

b. Deteksi dan Laporan Kasus dan Kegawatdaruratan Kesehatan Masyarakat
Semua tingkatan dan tipe institusi medis dan organisasi pengendalian penyakit harus melaksanakan surveilans, mendeteksi dan melakukan pelaporan kasus dan pembawa (carrier) tanpa gejala COVID-19 sesuai dengan rencana suveilaans Penyakit Virus Corona 2019.

c. Deteksi Kasus
Semua tingkatan dan tipe institusi medis harus meningkatkan kesadaran akan diagnosis dan laporan kasus baru selama surveilans COVID-19 dan diagnosis dan perawatan rutin. Untuk kasus dengan demam yang tidak dapat dijelaskan, batuk atau sesak napas, dll., informasi berikut harus dikumpulkan: apakah kasus tersebut bepergian dan sekitarnya, atau masyarakat melaporkan kasus yang dikonfirmasi, 14 hari sebelum timbulnya gejala penyakit; apakah kasus memiliki kontak dengan pasien dengan gejala demam atau masalah pernapasan di daerah atau masyarakat yang disebutkan di atas; apakah adanya serangan yang bersamaan; dan apakah kasus tersebut telah kontak dengan kasus COVID-19.

d. Laporan kasus
Kasus suspek yang dideteksi, kasus yang dikonfirmasi, dan pembawa (carrier) yang tak bergejala COVID-19 harus segera dilaporkan secara daring oleh institusi kesehatan yang telah membentuk sistem pelaporan atau dilaporkan ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) kabupaten dan mengirimkan kartu-kartu laporan penyakit infeksi dalam 2 jam ke organisasi lain tanpa sistem ini atau CDC lokal sangat dibutuhkan untuk laporan kasus daring sesegera mungkin.

BACA JUGA :  Pentingnya Menjagan Hygiene Personal Agar Terhindar Dari Covid-19

e. Deteksi dan Laporan Kegawatdaruratan (emergency)
Pusat Pengendalian dan pencegahan Penyakit (CDC) lokal harus melakukan laporan daring melalui Sistem Pelaporan Kegawatdarutan Masyarakat (Emergency Public Reporting System (EPRS)) dalam 2 jam setelah kasus pertama COVID-19 dikonfirmasi atau epidemi dikonfirmasi oleh Rencana Surveilans

f. Investigasi Epidemiologi
Berdasarkan Rencana Investigasi Epidemiologi Kasus Corona Virus 2019), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) tingkat kabupaten harus melengkapi investigasi epidemiologi dalam 24 jam setelah kasus atau suspek dilaporkan, kasus yang telah didiagnosis secara klinis

g. Pengumpulan dan Pemeriksaan Spesimen
Spesimen klinis dari tiap kasus yang dikumpulkan oleh institusi kesehatan harus dikirimkan ke laboratorium resmi lokal atau Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) atau laboratorium pihak ketiga untuk uji patogen sesegera mungkin. Spesimen klinis termasuk spesimen saluran pernapasan atas, spesimen saluran pernapasan bawah. Pada fase awal serangan penyakit, dan serum pada fase akut dalam 7 hari dari mulainya serangan, serta serum priode penyembuhan pada minggu ke-3 – 4 setelah serangan penyakit.

h. Pengobatan Kasus dan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial
Kasus suspek, kasus yang didiagnosis secara klinis (hanya untuk Provinsi Hubei) dan kasus terkonfirmasi harusnya diisolasi dan diobati pada rumah sakit-rumah sakit yang ditentukan dengan kondisi isolasi dan perlindungan yang efektif. Orang terinfeksi namun masih belum bergejala harusnya diisolasi selama 14 hari dan akan dikeluarkan dari isolasi setelah konfirmasi hasil pemeriksaan asam nukleat negatif setelah 7 hari.

i. Pelacakan dan Manajemen Kontak Dekat
Orang-orang yang pernah kontak dekat dengan orang yang suspek dan kasus yang terdiagnosis secara klinis, atau kasus yang telah dikonfirmasi, atau pembawa (carrier) tanpa gejala harus mendapatkan observasi isolasi medis terpusat. Pantau suhu tubuh paling kurang 2 kali sehari dan pantau apakah kontak dekat menunjukkan adanya gejala serangan akut pernapasan atau gejala terkait lainnya dan monitor perkembangan penyakit. Periode observasi untuk kontak dekat adalah 14 hari sejak kontak terakhir dengan kasus COVID-19 atau pembawa (carrier) tanpa gejala.

j. Pendidikan Kesehatan dan Komunikasi Risiko
Pemerintah harus aktif melakukan pengawasan terhadap opini atau pendapat umum, mempopulerkan pengetahuan pencegahan dan pengendalian epidemi, melaksanakan pengendalian dan pencegahan kepada masyarakat, respon cepat terhadap kecemasan publik dan masalah sosial, dan membuat upaya untuk melaksanakan pencegahan dan pengendalian epidemi dan komunikasi risiko.

BACA JUGA :  Menjelang Festival Tangkeno dan HUT Bombana, Dinkes Pastikan Siaga Penuh

k. Pelatihan Petugas Kesehatan
Staf kesehatan pada institusi medis dan kesehatan harus dilatih terkait dengan deteksi kasus dan laporan COVID-19, investigasi epidemiologi, pengumpulan spesimen, pemeriksaan laboratorium, pengobatan dan perawatan medis, pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial, manajemen kontak dekat, perlidungan individu dan informasi lainnya untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan mereka terkait pencegahan dan perawatan.

l. Disinfeksi Tempat-tempat Khusus
Dimana terdapat kasus dan orang-orang yang terinfeksi tanpa gejala tinggal dan menetap, seperti rumah pasien, ruangan/bangsal isolasi rumah sakit atau institusi medis, alat-alat transportasi dan tempat observasi medis harus didisinfeksi tepat waktu.

m. Penguatan Pencegahan dan Pengendalian Tempat-tempat Khusus
Institusi, dan Populasi Memperkuat mekanisme pencegahan dan pengendalian bersama multidepartemen untuk meminimalkan aktivitas masyarakat berkumpul, melaksanakan tindakan seperti ventilasi, disinfeksi and pengukuran temperatur di tempat-tempat umum seperti terminal, bandara, dermaga, pusat-pusat perbelanjaan, dan alat transportasi yang ditutup seperti mobil, kereta, dan pesawat sesuai dengan kondisi setempat.

n. Klasifikasi Ilmiah dan Strategi Pencegahan dan Pengedalian
Berbagai strategi pencegahan dan pengendalian harus diadopsi oleh masyarakat dalam situasi epidemi yang berbeda, sementara masyarakat dengan adanya kasus yang dilaporkan atau wabah sangat disarankan untuk mengikuti strategi pencegahan penyebaran kasus ke dalam dan keluar.

Penulis : Efriana, Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Halu Oleo, Program Studi Kesehatan Masyarakat

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here