Beranda Inspirasi “MEKONGKO” PERLU DILESTARIKAN SEBAGAI WUJUD PERSATUAN DAN KESATUAN WARGA

“MEKONGKO” PERLU DILESTARIKAN SEBAGAI WUJUD PERSATUAN DAN KESATUAN WARGA

63
0

WONUABOMBANA, RUMBIA – Mekongko berasal dari bahasa Moronene yang artinya “Kumpul Bersama”. Kebiasaan ini sudah ada dalam suku “Moronene” dari jaman nenek moyang namun sekarang seolah hilang. Untuk itu, kembali dihidupkan lagi oleh para tokoh dan sesepuh Adat Desa Lantawonua dirumah Kepala Dusun I (Ladoa) Rabu, 01-November-2017 Malam.

Kumpul bersama kali ini mengundang antusias warga setempat dan (Mereka-red) merasa sangat bersyukur bila kegiatan ini sejatinya bisa eksis lagi,bila perlu dilestarikan.

RUDEN selaku penyenggara kegiatan,sangat merasa bangga dan bahagia atas kunjungan keluarga besar sekaligus warga Desa Lantawonua secara keseluruhan, yang meliputi bukan hanya suku Moronene saja tapi semua suku yang ada.

Dirinya tak pernah menyangka sebagai penyelenggara “Mekongko” untuk persiapan Wisuda anaknya “HERLIN” akan sebanyak itu warga yang datang.

“Saya sangat bangga dan bersyukur dengan apa yang telah keluarga dan masyarakat berikan terhadap kami. Semoga kegiatan ini bukan hanya di rumah saya tapi seluruh warga bila membutuhkan agar bisa saling membantu”,ungkap RUDEN degan wajah penuh bahagia.

Sementara itu,Tokoh masyarakat Desa Lantawonua yang sangat berpengaruh M.ARSYAD.M juga mengapresiasi dengan berhasilnya digelar kembali kegiatan “Mekongko” ini.

Dia berharap,selain “Mekongko” bila ada yang hendak menikah oleh pihak Laki-laki yang Alhamdulillah sudah menjadi tradisi dalam suku moronene,kegiatan seperti Wisuda,sakit/masuk rumah sakit,sudah semestinya “Mekongko” itu sebagai Alternatif terbaik untuk saling membantu.

“Walaupun (Mekongko) persiapan wisuda baru pertama kali digelar di Desa Lantawonua,namun saya berharap kegitan ini akan sama seperti yang lainya,bila perlu dilestarikan. Sebab,ini sudah sangat membantu dan meringankan beban saudara kita sekaligus memupuk kebersamaan dalam persatuan dan kesatuan”,terang M.Arsyad.M yang juga merupakan Mantan Kepala Desa Lantawonua yang berakhir Mei 2016 kemarin.

Begitupun pelaksana tugas Kepala Desa yang baru (JANIB), dia memberikan respon positif dengan dihidupkanya kegitan seperti ini. Dimana sebelumnya “Mekongko” itu hanya berlaku bagi masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan itupun hanya berlaku bagi calon pengantin “Pria”.

Namun,kegitan “Mekongko” guna perayaan wisuda memang baru pertama kali digelar di Desa Lantawonua.

BACA JUGA :  DARI GURU KONTRAKAN HINGGA JADI KEPALA KANTOR KEMENTERIAN AGAMA

“Saya sangat memberikan dukungan siapa saja masyarakat yang mengalami kesusahan wajib hukumnya bagi kita untuk saling membantu. Bahkan dalam ajaran agama kita (Islam),sudah sangat jelas menjelaskan sebagai makhluk sosial agar kiranya untuk saling tolong menolong”, jelas Janib yang juga tidak lain sebagai warga Desa Lantawonua dusun (III).

Tambahnya, jangankan Urusan “Wisuda”, bila ada yang sakit/masuk Rumah Sakit,kesulitan biaya sekolah, “Mekongko” ini adalah cara yang paling baik sebagai wadah (Sarana) kita untuk ikut serta memberikan bantuan bukan hanya bentuk “uang” melainkan bentuk apa saja yang jelasnya bermanfaat ┬ákenapa tidak?,paparnya.

Lanjut JANIB mengungkapkan,kegiatan “Mekongko” bukan berarti masyrakat yang bersangkutan tidak ┬ámampu menanggulangi bebanya,melainkan itu merupakan bentuk solidaritas kita.

“Semoga Kepala Desa definitif nantinya,akan tetap menghidupkan kegiatan “Mekongko” ini,jangan sampai harus putus ditengah jalan”,harap Janib.

Berdasarkan pantauan Media Wonubombana.com sejak berlangsungnya kegiatan sekitar pukul 19:15 (selesai isa) sampai 20:30 sebahagian besar tokoh sudah bubar. Namun, sebahagian kecil masyarakat masih ada saja yang berdatangan. Dan jumlah uang yang telah terkumpul sementara ini sebanyak Rp.8.600.000.

PEWARTA : SUMARDIN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here