Beranda Opini Kabupaten Bombana Bisa Menjadi Lumbung Pangan

Kabupaten Bombana Bisa Menjadi Lumbung Pangan

125
0
ilustrasi
Opini,

Oleh : TAMA – Masyarakat Desa Lantawonua, Kec. Rumbia, Kab. Bombana.

Beredarnya wacana Bupati Bombana H.Tafdil SE. MM di Media Sosial bahkan Media Online, terkait beberapa ide brilian untuk memajukan Daerah dan Masyarakat Bombana pada umumnya patut diberi dukungan dan diaminkan.

Namun, diantara wacana Bupati Bombana tidak terlepas pula perhatiannya terhadap masyarakat khususnya petani. Yah, patut diacungkan jempol. Akan tetapi untuk mempertahankan Produksi Gabah Kering Giling Pertahunnya yang mencapai 100 ribu ton yakni dengan cara menyediakan pabrik mungkin sudah tepat, tetapi perlu dimaksimalkan dalam proses manajemennya.

Pasalnya, disamping untuk mempertahankan hasil panen petani khususnya di Kabupaten Bombana, Provinsi Sulawesi Tenggara, yang tidak kalah pentingnya adalah, bagaiman cara Pemerintah Bombana menggenjot nilai hasil panen petani sehingga setiap tahunnya bisa bertambah, bahkan menjadi lumbung pangan yang sebenarnya seperti yang diungkapkan Bupati di Media beberapa minggu lalu.

Bila niat itu ingin dicapai, alangkah baiknya bila dikaji kembali. Sebab, bila hanya menyediakan pabrik gabah, tanpa Pemda Bombana siapkan pun Masyarakat Bombana pada umumnya sudah bisa menggiling hasil panen mereka ke pemilik pabrik dari masyarakat itu sendiri yang sudah mampu memiliki Mesin Giling ataupun bila ada yang telah mendapat bantuan dari Pemerintah.

Yang perlu mungkin difikirkan sekarang apa yang menjadi masalah kenapa Gabah itu selalunya diekspor keluar dari Bombana?,. Itulah akar permasalahanya, dan bagaimana hasil panen pertahunya, apakah ada kenaikan atau penurunan?,.

Mungkin yang perlu Pemerintah tahu khususnya di Bombana, apa yang menjadi kendala Petani sawah memasuki masa turun untuk bersawah?,. Dan kenapa Gabah di Kabupaten Bombana pasca panen selau di Ekspor keluar?,. Pertanyaan ini pasti memunculkan banyak jawaban?.

Pertama, karena tidak tersedianya khusus Penada Gabah kering pasca panen oleh Pemda, Kedua, mungkin bisa jadi karena hanya hasil pertanian yang dijadikan satu satunya sumber pengahsilan bagi mereka petani, dan yang ketiga, boleh jadi karena sebelum turun bersawah, karena terbebani mahalnya upah kerja untuk menggarap sawah utamanya tukang Hand Tractor atau Padompeng, akhirnya sebagai pelarian berbuntut untuk mengutang. Sehingga mungkin itulah yang menjadi alasan kuat petani untuk cepat menjadikan uang hasil panen mereka, atau boleh jadi juga karena adanya kebutuhan yang sifatnya mendadak.

Jadi, kenapa tidak Pemda Bombana mencoba mencari solusi yang benar-benar menjadi keluhan dan permaslahan petani di lapangan?,. Bila Pemda berniat hendak mempertahankan hasil panen petani, kenapa tidak bukan hanya dipertahankan, melainkan ditingkatkan lagi hasil produksinya sehingga Bombana menjadi Lumbung Pangan disamping itu untuk dapat mensejahterahkan Masyarkat Bombana yang hampir mayoritas berprovesi sebagai petani.

Sedikit solusi, bagaimana kalau dari Pemda Bombana dalam hal ini (Bupati), menekankan terhadap Dinas terkait yakni Dinas Pertanian untuk lebih mengaktifkan lagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL)?,. namun, yang dimaksud disisni lebih diaktifkan lagi, bukan berarti Petugas PPL di Lapangan, dituntut harus lebih aktif, sementara “Hak” mereka diabaikan.

Contoh, dari Dinas Pertanian kenapa tidak mengumpulkan semua PPL se Bombana, lalu mencoba membuat kegiatan seperti Study Banding atau keluar belajar ke Daerah lain di Tanah Air, namun Daerah yang dituju, yang dinilia sudah sukses dan maju petaninya dan nilai produksi mereka dalam setiap tahunya meningkat. Akan tetapi, sedikit tenaga yang keluar, akan tetapi hasilnya memuaskan. Dan, biaya perjalanan mereka harus ditanggung oleh Pemda.

Nah, sepulang dari sana, pasti PPL Bombana akan lebih berkualitas lagi. Sehingga, cara-cara itulah yang akan mereka sampaikan ke Desa-Desa dimana mereka bertugas, atau Wilayah Dampingan. Tapi, Tunjangan mereka harus bertamabah. Sebab, bagaimana kegiatan ini akan berjalan mulus, bila biaya transpor ditanggung oleh petugas itu sendiri. Masih untung bila sudah menjadi PNS, gimana kalau mereka yang masih Honor/PHTT?,.

Jadi ilmu yang akan diterapkan disini pasca pelatihan Study Banding, yakni bagaimana sebenarnya melakukan penyuluhan secara intens. Dalam artian PPL dari ilmu yang diperoleh, harus bisa membina setiap Kelompok Tani yang ada, meyakinkan mereka, sekaligus memberikan solusi cara bercocok tanam yang baik agar bisa menjadi Petani yang baik dan berhasil.

Namun, lewat pertemuan-pertemuan yang telah dijadwalkan Petugas PPL terhadap petani, sekaligus adalah salah saru upaya untuk mencoba menggali akar permasalahan yang ada sehingga masalah ini bisa terjawab. “Kenapa Stiap Pasca Panen, Gabah Kering Giling Mereka, Selalunya di Lempar Keluar?”,. Dan lewat ini pula, sepertinya akan jauh lebih efektif bila dirangkaiakan dengan mengambil SAMPEL ke semua Desa di Kabupaten Bombana. Khususnya bagi Kecamatan yang banyak memiliki masyarakat yang berprovesi sebagai petani.

Bila setiap Desa dianggap berat untuk diadakan rapat?, kenapa tidak agar lebih efisien, kegiatan dipusatkan saja di Kantor Kecamatan. Dengan cara, diundang saja setiap Ketua Kelompok Tani, lalu dihadirkan di Kecamatan setempat. Selanjutnya digelarlah rapat dan sekaligus pembinaan/penyampaian tata cara bertani yang lebih baik dan benar. Adapun jumlah pertemuanya, terpulang lagi dari Juknis yang dibuat oleh Dinas Pertanian, atau penyuluh PPL setempat bila dia mampu mengkoordinirnya?.

Mungkin cara-cara ini bisa ditinjau ulang bagaimana tingkat kesulitannya, dan kemudahannya dilapangan?,. Disamping itu yang sangat bisa difikirkan kembali, bila program ini diberlakukan, setelah dikaji lebih dalam, berapa jumlah manfaatnya bagi Masyarakat dan Daerah yang nota benenya hampir mayoritas berprofesi sebagai petani.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here