Beranda Jawa

Jawa

Sejarah Asal Usul Suku Jawa

WONUABOMBANA.COM – Suku Jawa adalah salah satu suku mayoritas yang ada di Indonesia. Kebanyakan dari suku ini berdomisili di berbagai belahan di pulau Jawa. Mereka menghuni khusunya di Provinsi Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Namun, suku ini juga banyak ditemukan di Provinsi Jawa Barat, Banten dan tentunya di Ibukota Jakarta. Ternyata  tidak hanya di pulau Jawa saja, masyakarat yang bersuku Jawa juga tersebar di berbagai pulau yang ada di Indonesia bahkan juga mancanegara.

Sebagian besar masyarakat yang bersuku Jawa menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan di kehidupan sehari-hari. Banyak kalangan yang berpendapat bahwa masyarakat jawa adalah orang-orang yang sopan dan satun dalam bertutur kata serta dalam tingkah laku. Lalu siapakah sebenarnya nenek moyang suku Jawa? Bagaimana suku ini bisa menjadi mayoritas di Indonesia? Berikut ini adalah ulasannya.

Asal usul suku Jawa tidak jauh berbeda dengan asal-usul orang Indonesia secara keseluruhan yaitu ketika ditemukannya fosil dari Homo Erectus yang juga dikenal dengan “Manusia Jawa” oleh Eugene Dubois di Trinil. Ia merupakan ahli anatomi yang berasal dari Belanda. Fosil yang ditemukan tersebut diperkirakan memiliki umur sekitar 700.000 tahun. Tidak lama berselang, ditemukan juga fosil lainnya dari spesies yang sama di Sangiran oleh Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald pada tahun 1930. Dirinya menemukan perkasas yang jauh lebih maju dibandingkan era sebelumnya. Diiperkirakan umur dari perkasas tersebut adalah 550.000 hingga 143.000 tahun.

Sedangkan, pada sebuah tulisan kuno memberikan sebuah kejelasan mengenai asal usul nenek moyang suku Jawa yaitu ketika kedatangan aji saka. Akan tetapi, di dalam tulisan kuno tersebut terdapat keterangan mengenai keadaan geologi pula Jawa dalam sebuah tulisan kuno hindu yang menyatakan bahwa Nusa Kendang, nama pulau Jawa kala itu merupakan bagian dari India. Sedangkan tanah yang saat ini dikatakan sebagai Kepulauan Nusantara merupakan daratan yang menyatu dengan daratan Asia dan Australia yang kemudian terputus dan tenggelam oleh air bah.

Sementara itu, di Babad Kuno, juga ditemukan sejarah yang samar mengenai suku Jawa. Diceritakan bahwa ada Arjuna seorang raja dari Astina yang merupakan kerajaan yang bertempay di Kling membawa penduduk pertama ke Pulau Jawa. Pada masa tersebut, pulau ini belumlah mempunyai penghuni. Mereka kemudian mendirikan sebuah koloni yang letaknya tidak disebutkan.

Sejarah lebih jelas akhirnya didapatkan ketika ditemukannya sebuah surat kuno yaitu Serat Asal Kereaton Malang. Di dalam surat tersebut disebutkan bahwa Raja Rum yang merupakan sultan dari negara Turki namun disurat lainnya disebut sebagai raja dari Dekhan mengirim penduduk pertama pada 450 SM. Akan tetapi, penduduk yang dikirim tersebut menderita karena adanya gangguan dari binatang buas. Karena hal tersebut, maka banyak dari penduduk yang kembali pulang ke negara asalnya.

Lalu pada 350 SM Raja kembali mengirim perpindahan penduduk untuk kedua kalinya. Perpindahan tersebut membawa 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan yang berasal dari Koromandel. Perpindahan yang dipimpin oleh Aji Keler ini menemukan Nusa Kendang dengan dataran tinggi yang ditutupi oleh hutan lebat serta binatang buas. Sementara itu, di tanah datarnya ditumbuhi oleh tanaman yang dinamakan jawi. Karena jenis tanaman tersebut ada di mana-mana maka dirinya menamakan tanah tempat tersebut dengan nama “Jawi”. Nama tersebut yang kemudian berlaku untuk nama keseluruhan Pulau Jawa.

Kepercayaan utama yang dianut oleh suku ini adalah animisme. Kepercayaan tersebut terus bertahan hingga pada akhirnya dai-dai Hindu dan Budha tiba di indonesia. Mereka melakukan kontak dagang dengan penduduk dan membuat mereka tertarik untuk menganut agama-agama baru ini. Hal itu disebabkan karena mereka mampu menyatu dengan filosofi lokal Jawa yang unik.

Perkembangan serta penyebarluasan dari suku Jawa mulai berlangsung signifikan ketika Kertanegara memerintah Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Dirinya melakukan beberapa ekspesidi besar seperti ke Madura, Bali, Kalimantan dan Sumatera. Hingga pada akhirnya, Singasari berhasil menguasai perdagangan di selat Malaka menyusul kekalahan kerajaan Melayu. Pada tahun 1292, dominasi dari kerajaan Singasari terhenti ketika terjadinya pemberontakan oleh Raden Wijaya yang merupakan anak dari Kertanegara. Raden Wijaya inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara kala itu.

Namun, Majapahit akhirnya mengalami banyak permasalahan karena tidak adanya penerus. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa mulai berubah dengan berkembangnya agama Islam. Ketika Majapahit runtuh, maka dominasinya digantikan oleh Kesultanan Demak. Kesultanan Demak inilah yang nantinya memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan Portugis. Demak melakukan dua kali penyerangan kepada Portugis ketika kaum Portugis berhasil menundukkan Malaka.

Masyarakat suku Jawa diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan migrasi penduduk Austronesia menuju Madagaskar pada abad pertama. Namun demikian, sebenarnya kultur utama dari migrasi ini lebih dekat dengan suku Ma’anyan di Kalimanyan. Beberapa bagian dari bahasa Malagasy sendiri diambil dari bahasa Jawa. Pada ratusan tahun setelahnya, diperkirakan ketika periode kerjaan Hindu tiba, banyak saudagar kaya yang bermukim di tempat lainnya di Nusantara ini. Ketika runtuhnya Majapahit dan berkembannya Islam di Pantai Utara Jawa, maka banyak orang Hindu yang bermigrasi dari Jawa ke Bali dan berperan dalam majunya kultur Bali.  Migrasi yang dilakukan oleh suku Jawa tidak hanya di dalam negeri saja. Namun, mereka juga melakukan migrasi ke Semenanjung Malaya. Hubungan antara Malaka dan Jawa menjadi hal penting dalam perkembangan Agama Islam di Indonesia.

Budaya Jawa adalah budaya yang berasal dari Jawa dan dianut oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa TengahDIY dan Jawa Timur. Budaya Jawa secara garis besar dapat dibagi menjadi 3 yaitu budaya Banyumasan, budaya Jawa Tengah-DIY dan budaya Jawa Timur. Budaya Jawa mengutamakan keseimbangan, keselarasan dan keserasian dalam kehidupan sehari hari. Budaya Jawa menjunjung tinggi kesopanan dan kesederhanaan. Budaya Jawa selain terdapat di Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur terdapat juga di daerah perantauan orang Jawa yaitu di JakartaSumatera dan Suriname. Bahkan budaya Jawa termasuk salah satu budaya di Indonesia yang paling banyak diminati di luar negeri. Beberapa budaya Jawa yang diminati di luar negeri adalah Wayang KulitKerisBatik dan Gamelan. Di Malaysia dan Filipina dikenal istilah keris karena pengaruh Majapahit.[4] LSM Kampung Halaman dari Yogyakarta yang menggunakan wayang remaja adalah LSM Asia pertama yang menerima penghargaan seni dari AS tahun 2011. Gamelan Jawa menjadi pelajaran wajib di Amerika Serikat, Singapura dan Selandia Baru.[5] Gamelan Jawa rutin digelar di AS-Eropa atas permintaan warga AS-Eropa. Sastra Jawa Negarakretagama menjadi satu satunya karya sastra Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Memori Dunia. Menurut Guru Besar Arkeologi Asia Tenggara National University of Singapore John N. Miksic jangkauan kekuasaan Majapahit meliputi Sumatera dan Singapura bahkan Thailand yang dibuktikan dengan pengaruh kebudayaan, corak bangunan, candi, patung dan seni.[6] Budaya Jawa termasuk unik karena membagi tingkat bahasa Jawa menjadi beberapa tingkat yaitu Ngoko, Madya Krama.

Kepercayaan

Mayoritas orang Jawa menganut agama Islam (sekitar 95%). Masyarakat Muslim Jawa umumnya dikategorikan ke dalam dua golongan, yaitu kaum Santri dan Abangan. Kaum santri mengamalkan ajaran agama sesuai dengan syariat Islam, sedangkan kaum abangan walaupun menganut Islam namun dalam praktiknya masih terpengaruh Kejawen yang kuat.

Orang Jawa juga ada yang menganut agama Kristen (sekitar 4%), baik Protestan maupun Katolik.Sama seperti muslim Jawa, orang Jawa Kristen juga ada yang disebut Kristen abangan yang masih terpengaruh Kejawen yang kuat. Orang Jawa Kristen kebanyakan tersebar di Salatiga, Surakarta, Magelang dan Yogyakarta di mana penganut Kristen mencapai 15% hingga 25% dan penganut Islam sekitar 75% hingga 85%.

Di kota-kota besar seperti Semarang, Surabaya, Malang dan wilayah perkotaan lainnya penduduk beragama Islam sekitar 85% hingga 95% dan Kristen sekitar 5% hingga 15% yang sebagian juga terdiri dari orang Tionghoa. Di kawasan lainnya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta hampir semua penduduknya beragama Islam (sekitar 95% hingga 99%) dan penduduk non muslim hanya sekitar 1% hingga 5%.

Sekitar 1% Orang Jawa lainnya juga menganut HinduBuddha maupun kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai Kejawen. Kantong kecil Orang Jawa Hindu masih ditemukan dseperti di BlitarBanyuwangiProbolinggo dan Pasuruan di mana terdapat umat Hindu yang membentuk populasi sekitar 1% hingga 2% dari jumlah penduduk, sedangkan kantong kecil orang Jawa Buddha dapat ditemukan di Temanggung yang memiliki 1% umat Buddha dari total penduduk. Di wilayah-wilayah lain penganut Hindu dan Buddha kurang dari 1%, kecuali di Kota Surabaya yang memiliki umat Buddha 1% karena banyak terdapat orang Tionghoa.

Profesi

Mayoritas masyarakat Jawa berprofesi sebagai petani. Sedangkan di perkotaan mereka berprofesi sebagai pegawai negeri sipil, karyawan, pedagang, usahawan, dan lain-lain. Di Daerah Khusus Ibukota Jakarta jumlah orang Jawa mencapai 40% pada tahun 2015 dari penduduk Jakarta. Orang Jawa perantauan di Jakarta bekerja di berbagai bidang. Hal ini terlihat dari jumlah mudik lebaran yang terbesar dari Jakarta adalah menuju Jawa Tengah. Secara rinci prediksi jumlah pemudik tahun 2014 ke Jawa Tengah mencapai 7.893.681 orang. Dari jumlah itu didasarkan beberapa kategori, yakni 2.023.451 orang pemudik sepeda motor, 2.136.138 orang naik mobil, 3.426.702 orang naik bus, 192.219 orang naik kereta api, 26.836 orang naik kapal laut, dan 88.335 orang naik pesawat.[7] Bahkan menurut data Kementerian Perhubungan Indonesia menunjukkan tujuan pemudik dari Jakarta adalah 61% Jateng dan 39% Jatim. Ditinjau dari profesinya, 28% pemudik adalah karyawan swasta, 27% wiraswasta, 17% PNS/TNI/POLRI, 10% pelajar/mahasiswa, 9% ibu rumah tangga dan 9% profesi lainnya. Diperinci menurut pendapatan pemudik, 44% berpendapatan Rp. 3-5 Juta, 42% berpendapatan Rp. 1-3 Juta, 10% berpendapatan Rp. 5-10 Juta, 3% berpendapatan di bawah Rp. 1 Juta dan 1% berpendapatan di atas Rp. 10 Juta.[8]

Stratifikasi sosial

Masyarakat Jawa juga terkenal akan pembagian golongan-golongan sosialnya. Pakar antropologi Amerika yang ternama, Clifford Geertz, pada tahun 1960-an membagi masyarakat Jawa menjadi tiga kelompok: kaum santriabangan, dan priyayi. Menurutnya kaum santri adalah penganut agama Islam yang taat, kaum abangan adalah penganut Islam secara nominal atau penganut Kejawen, sedangkan kaum Priyayi adalah kaum bangsawan. Tetapi dewasa ini pendapat Geertz banyak ditentang karena ia mencampur golongan sosial dengan golongan kepercayaan. Kategorisasi sosial ini juga sulit diterapkan dalam menggolongkan orang-orang luar, misalkan orang Indonesia lainnya dan suku bangsa non-pribumiseperti orang keturunan ArabTionghoa, dan India.

Seni

Orang Jawa terkenal dengan budaya seninya yang terutama dipengaruhi oleh agama Hindu-Buddha, yaitu pementasan wayang. Repertoar cerita wayang atau lakon sebagian besar berdasarkan wiracarita Ramayana dan Mahabharata. Selain pengaruh India, pengaruh Islam dan Dunia Barat ada pula. Seni batik dan keris merupakan dua bentuk ekspresi masyarakat Jawa. Musik gamelan, yang juga dijumpai di Bali memegang peranan penting dalam kehidupan budaya dan tradisi Jawa.

Tokoh-tokoh Jawa

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa