Beranda Artikel Gufron Kapita: Semoga Setelah Idul Fitri, Kita Mampu Meraih Kemenangan

Gufron Kapita: Semoga Setelah Idul Fitri, Kita Mampu Meraih Kemenangan

167
0
Khotbah Shalat Ied 1439 H di Desa Tembe, Kec. Rarowatu Utara, Kab. Bombana (Foto: Dok. Pribadi Gufran Kapita)
Khotbah Shalat Ied 1439 H di Desa Tembe, Kec. Rarowatu Utara, Kab. Bombana (Foto: Dok. Pribadi Gufran Kapita)

WONUABOMBANA.COM, RAROWATU UTARA – Gufron Kapita yang tahun ini secara sengaja, dimana telah direncanakan sejak jauh hari untuk berlebaran di Kampung Halamanya, di Desa Tembe, Kecamatan Rarowatu Utara, Kabupaten Bombana, Sultra. Namun, kali ini ada yang berbeda. Sebab, diantara Pemuka agama setempat, begitupun dari masyarakat baik tua dan muda, meminta dirinya untuk menjadi Khotib.

Menyampaikan Dakwah di hari kemenangan bagi seluruh umat islam diseluruh Dunia tanpa terkecuali di Desa Tembe pada saat pasca pelaksanaan sholat ied (1439 H). Dengan Tema: “Moral”. yang berjudul, Perubahan Sikap Ke-arah Yang Lebih Baik Pasca Bulan Suci Ramadhan.

Namun, setelah kita meyakinkan diri bulatkan Tekad untuk berubah ke arah yang lebih baik, kita pasti melewati berbagai persoalan. Akan tetapi, itu sudah jadi pilihan. Dan sesungguhnya orang yang beriman itu, ujian akan dianggapnya bumbu perjuangan dan diyakininya pula sebagai ujian dari Allah SWT, Amin.

Berikut akan terangkum kedalam 6 masalah yang akan dilewati pasca berniat untuk berubah. Pertama, Kita harus tahu bahwa banyak rintangan dan cobaan, bahkan komentar tidak enakpun acapkali kita dengarkan. Kedua, Kita tahu bahwa berubah memang butuh proses dan tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun tentu ada langkah pasti serta upaya untuk mencapai ridho-Nya.

Ketiga, Kita harus cari lingkungan yang baik untuk bersilaturahim sesama umat. Keempat, Kita harus tahu bahwa jalan selamat adalah mengikuti islam yang sesuai syari’at, bukan sekedar mengikuti tradisi yang telah ada secara turun temurun. Kelima, Istiqomah dalam menghadapi segala ujian-Nya. Keenam, Hiasi diri pula dengan akhlak yang mulia.

BACA JUGA :  Secercah Pencerahan Dari Pelosok Desa Lantawonua di Hari Yang Fitri

Dari seorang mush’ab bin Sa’id seorang Ta’bin dari ayahnya, ia berkata: Yang artinya, Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?,. Lalu beliau Shallallahu Allaihi Wasalam menjawab:

“Para Nabi, kemudin yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, Maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan dimuka bumi dalam keadaan bersih dari dosa”, (HR. tirmidzi no.2398, Ibnu Majah no 4023, dan Ahmad 1: 185. Al-Hafitzh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Begitupun pada perintah kedua, poin kedua: Kita harus tahu bahwa berubah nemang butuh proses, namun tentu ada langkah pasti. Nabi Shallallahu Allaihi Wa Sallam pernah mengatakan pada Hanzallah Al-Usayyidiy sampai kalimat ini di ulang hingga tiga kali.

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian mau kontinu dalam beriman sebagaimana keadaan kalian ketika berada disisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para Malaikat akan menjabat tangan kalian ditempat tidurmu dan dijalan. Namun, Hanzallah, lakukanlah sesaat demi sesaat”, (HR. muslim no.2750).

Kemudian yang poin keempat, dimana Kita harus tahu bahwa jalan selamat adalah mengikuti Islam yang sesuai syari’at, bukan sekedar mengikuti tradisi yang telah ada secara turun temurun. Jika seseorang beriman dengan ajaran Rasul dan ajaran AlQur’an, pasti ia akan selamat. Allah Ta’ala berfirman:

“Dan jika mereka beriman seperti keimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar)”, (QS. Al-Baqarah: 137). Ayat ini membicarakan tentang ahli kitab yang mau beriman dengan kitab Allah dan Rasul-Nya, Itulah yang benar mendapatkan petunjuk.

Dalam ajaran Islam yang murni tentu mengikuti AlQur’an dan As-Sunnah, bukan mengikuti Tradisi. Walau memang tidak setiap tradisi itu ditinggalkan. Dalam Hadits disebutkan:

“Aku telah tinggalkan bagi kalian dua perkara yang kalian tidak akan sesat selamanya jika berpegang teguh dengan keduanya yaitu: AlQur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu allaihi Wasallam”, (HR. al-Hakim, Sanadnya Shalih kata Al-Hakim).

Sebagai kesimpulan, begitu juga dengan poin-poin berikutnya (5-6). Semuanya sudah jelas ada dalilnya, haditsnya, sabdanya bahkan ada juga Firman Allah yang bisa menguatkan bagi Muslimin dan Muslimat, terlebih lagi bagi mereka yang ingin berbuat lebih baik, Pasca Bulan Suci Ramadhan ini. Semoga ada hikmah dan barokahnya untuk kita semua Amin. (w/b)

Penulis : Gufran Kapita
Editor  : Tim Redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here